Minggu, 17 November 2019

Kami dibelakang Layar


Tenaga Kesehatan Dibelakang Layar
Saya adalah mahasiswa dari STIKes A. Yani jurusan D3 Analis Kesehatan. Saya juga terbilang baru menjadi mahasiswa, karena saya baru saja memasuki semester 1. Saya mengetahui jurusan ini pun dari tante saya yang sekarang berprofesi menjadi Kepala Cabang di Laboratorium Pramita, saya juga dulu sangat berminat pada jurusan kesehatan jadi saya sangat senang menjalaninya walau memang jadwal kuliah yang padat :). Namun tiada kesuksesan yang gampangkan guys hihi.  

Mayoritas masyarakat Indonesia mengenal tenaga kesehatan adalah dokter umum atau spesialis dan suster. Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui bahwa yang mendiagnosis penyakit secara akurat itu adalah seorang Analis Kesehatan yang sekarang bernama Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Diagnosis seorang dokter sangat dipengaruhi oleh sampel yang diteliti seorang ATLM.

Kerjanya ngapain aja sih ATLM??
Ahli Teknologi Laboratorium medic bekerja mengambil sampel pasien yang akan diperiksa. Sampel yang diambil ada berbagai macam sesuai dengan pemeriksaan yang diminta. Kebanyakan sampel yang diambil adalah darah, seorang ATLM juga wajib mengetahui anatomi tubuh manusia seperti dokter namun tidak terlalu mendalam.
Apa peluang karir dari ATLM??
Sebenarnya pikiran masyarakat yang mengetahui ATLM ini berfikir bahwa karir seorang ATLM adalah sebatas bekerja di laboratorium medis saja, sebenarnya pikiran itu salah besar karena banyak peluang karir untuk seorang ATLM, misalnya : Teknisi Laboratorium Rumah Sakit, Teknisi Laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Peneliti di LIPI, Dosen, manager di Laboratorium Swasta, dll. 

Saya berharap semoga blog saya bermanfaat, semoga saya dapat share mengenai berbagai macam penyakit agar menjadi pengetahuan bagi kalian hihihi…



Rabu, 08 Februari 2017

TEKS NEGOSIASI



MEMBELI KERUDUNG
Pada malam minggu, ibu saya meminta diantar ke pasar minggu untuk membeli baju dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Saya pun teringat bahwa kerudung sekolah putih saya sudah tipis saya minta untuk dibelikan kerudung, namun ibu saya tidak mengijinkan karena factor kerudung saya sudah banyak di lemari.
Keesokan harinya, di pagi hari ibu saya sudah siap-siap dan meminta untuk mengantar ke pasar. Saya meminta agar dibelikan kerudung.
“ayok antar mamah ke pasar mau beli baju dan ialat masak.” Ibuku membujuk meminta diantar
“Tapi belikan kerudung?” Bujuk saya kepada ibu,
“Iya dibelikan tapi jangan banyak-banyak, bukannya kerudung kamu di lemari banyak?.” Tanya ibu,
“Tapi kerudung sekolah saya yang berwarna putih hanya satu mah..” Saya mencoba meyakinkan ibu,
“Yasudah mamah belikan tapi syaratnya satu hari ini kamu cuci piring sampai beres?” Tanya ibuku,
“Ya aku bersedia..” Yakinku.

Akhirnya saya dan ibu pun berangkat menuju pasar minggu yang bertempat di Graha Bukit Raya 3.
Sesampainya di pasar minggu tersebut saya mengantar terlebih dahulu ibu saya ke tempat perlatan rumah tangga, disana ibu saya ditawarkan sebuah teflon. Ibu saya pun berbincang-bincang dengan penjual teflon tersebut.
            “Bu mangga bu.. penglaris Teflon, spatula, ember, gayung masih banyak bu ayok dipilih dipilih.” Teriak Penjual.
            “Pak harga teflonnya berapa?.”Tanya Ibuku,
            “Teflon yang ini Rp.60.000. bu harganya soalnya bahannya baguss nih..” Jawab penjual,
            “Jadi Rp.50.000. bias kan? Temen saya beli waktu itu hanya Rp.50.000. di toko.“Tawar Ibuku kepada penjual.
            “Rp.55.000. sajalah biar saya juga dapet untung.” Jawab penjual.
            “Yasudah saya ambil Teflon satu.”Ibuku akhirnya membeli Teflon itu.
Saya pun meminta ibu saya untuk melihat-lihat kerudung, akhirnya ada saya pun bertanya kepada si penjual apakah ada kerudung yang saya iinginkan disini. Akhirnya ketemu juga kerudungnya. Seperti biaa ibu saya menawar kerudung tersebut lagi.
“Bu kerung yang ini berapa yah harganya?.”Tanya Ibuku,
            “Ini Rp.25.000 buu bahan bagus dan tidak cepat menipis.”Jawab Penjual,
            “Bisa Rp.20.000 gak? Soalnya saya mau beli kerudungnya dua tapi warnanya berbeda.”Tawar Ibuku,
            “Yasudah bu boleh mau warna apa?” Tanya penjual,
            “Hitam dan putih.Terima kasih bu.”Cakap Ibuku.
Nurul Dwi Mauliya
X MIPA 5

Rabu, 19 Oktober 2016

Budaya Berjilbab Di Indonesia
Oleh
Nurul Dwi Mauliya
  Pada zaman globalisasi ini memang sulit untuk memperkuat keimanan kita sebagai muslim, karena banyaknya model baju yang tidak dianjurkan dalam syariat islam.Globalisasi merupakan suatu kondisi dimana perbedaaan jarak dan letak geografis bukan lagi menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Dunia seakan tanpa batas, sehingga makin dekat dan menyebar luas. Adanya globalisasi akan berpengaruh pada suatu bangsa dan negara, masyarakat bahkan individu dalam masyarakat. Era Globalisasi ini memang sangatlah bermanfaat namun dibalik sisi manfaat itu ada juga keburukan didalamnya, namun jika kita menanggapi keburukan itu dengan baik, misalnya kita sebagai kaum muslim dapat memperluas ilmu agama tanpa harus keluar rumah dapat dengan melihat dari internet.
  Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; Jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari khimar (kerudung), sedang yang benar menurutnya jilbab adalah kain yang menutup semua badan. Dari atas tampaklah js kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad Saw sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda yang tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yangberbeda. Ada beberapa pengertian menurut para ahli tafsir seperti, Tafsir Ibnu Abbas: Dalam menafsirkan ayat jilbab tersebut, Ibnu Abbas menuturkan, “Selendang atau jilbab tudung wanita hendaklah menutupi leher dan dada agar terpelihara dari fitnah atau terjauh dari bahaya zina.Tafsir Sayyid Qutb: Menurut Sayyid Qutb, dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada istri-istri Nabi dan kaum muslimah umumnya agar setiap keluar rumah senantiasa menutupi tubuh, dari kepala sampai ke dada dengan memakai jilbab tudung yang rapat, tidak menerawang, dan juga tidak tipis. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga identitas mereka sebagai muslimah dan agar terpelihara dari tangan-tangan jahil dan kotor.Tafsir Qurthubi: Allah SWT memerintahkan segenap kaum muslimah agar menutupi seluruh tubuhnya, agar tidak memperagakan tubuh dan kulitnya kecuali dihadapan suaminya, karena hanya suaminya yang dapat bebas menikmati kecantikannya.
  Namun sayang ternyata pada zaman ini banyak sekali muslimah yang terlalu mengikuti zaman jadi tidak lagi mengikuti syariat islam dalam berjilbab. Namun sebetulnya belum tentu yang tidak berjilbab tidak taat dan belum tentu juga yang berjilbab itu taat agaman, seharusnya jilbab itu untuk menjauhkan pandangan yang tidak baik agar kita sebagai muslimah terhindar dari marabahaya. Jadi jilbab ini adalah suatu pelindung kaum hawa dalam bersosialisasi dengan lawan jenis agar tidak mengundang syahwa. Jadi jilbab itu bukanlah sebuah keharusan namun jika jilbab banyak memberikan manfaat kepada kita kenapa tidak untuk memakai jilbab.